Awalnya saya berminat untuk menulis panjang tentang sistem pendidikan, belajar, dan refleksi saya tentang dosen dan mahasiswa. Setelah menulis hampir seribu kata, saya baru sadar kalau saya sudah terlalu banyak menulis, dan mencoba membahas terlalu banyak hal tanpa isi yang substansif. Jadi akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan substansi dari esai panjang tersebut, untuk menghemat waktu pembaca. Apa gunanya menuliskan poin-poin utama saja, tanpa penjelasan? Untuk menyuntikkan ide ke pembaca terlebih dahulu, dan mudah-mudahan dapat menjadi katalis untuk pembaca memikirkan hal ini.

Inti dari esai panjang ini, yang mungkin nanti akan dipecah menjadi beberapa esai, yaitu:

  1. Kebanyakan orang berpikir bahwa untuk menjadi dosen atau pengajar kita harus menjadi pintar dan benar-benar menguasai topik yang diajarkan. Meskipun menguasai topik penting, menurut saya lebih penting lagi bersemangat dan pintar mengajar. Seni dan ilmu mengajar, adalah hal yang berbeda dengan topik yang diajarkan (kecuali anda dosen bidang ilmu edukasi :p). Dosen yang terlalu pintar malah akan sulit mengerti tantangan yang dihadapi mahasiswa dalam mempelajari topik tersebut, karena si dosen tidak pernah mengalami kesulitan dalam mempelajari topik tersebut.
  2. Sistem pendidikan sekarang lebih berfokus kepada bagaimana kita bisa lulus ujian daripada bagaimana kita menguasai dan mengerti suatu bidang. Walaupun ujian dapat dikatakan sebagai salah satu alat ukur penguasaan suatu bidang, hemat saya adalah bahwa ujian bukan alat ukur yang baik. Kita perlu alat yang lebih baik lagi (tapi saya belum tahu apa alat tersebut).
  3. Berkaitan dengan poin sebelumnya, sistem pendidikan yang berjalan sekarang terlalu berfokus untuk mencetak pekerja, padahal yang kita butuhkan adalah pemikir. Kita perlu memikirkan bagaimana mengubah pelajar menjadi pemikir, sejak dini. “Dini” dalam artian mulai dari TK.
  4. Dosen atau guru tidak selalu benar. Pengajar juga bisa salah, dan ketika pengajar salah yang belajar harus dapat dan boleh mengoreksi pengajar tanpa harus takut mendapatkan hukuman atau ejekan. Kita perlu mengubah pola pikir dosen dan mahasiswa dalam hal ini. Saya sering dengan sengaja menjelaskan hal yang jelas-jelas salah di kelas, mengharapkan mahasiswa mengoreksi atau setidaknya bertanya kepada saya. Dan saya selalu kecewa karena harus mengoreksi diri sendiri tanpa pernah diprotes mahasiswa.
  5. Setiap orang belajar dengan kecepatan yang berbeda-beda. Jika topik yang dipelajari sangat menarik bagi orang tersebut, biasanya pembelajaran akan lebih cepat dan intens. Ketika topik kurang menarik, kita akan lebih lambat dalam mengerti hal tersebut. Sekolah, sebagai tempat belajar, seharusnya mengakomodir hal ini. Memaksakan semua pelajar belajar dengan kecepatan yang sama, dalam materi yang sama setiap semesternya sangat tidak optimal.
  6. Kita perlu mulai mengajarkan cara belajar dan berhenti mendiktekan apa yang harus dipelajari oleh pelajar. Biarkan mereka belajar sesuai dengan minat dan kecepatan masing-masing. Pengajar seharusnya menjadi pemandu, bukan bos yang harus diikuti perintahnya 100%. Peran pengajar perlu digeser menjadi orang yang mengenalkan topik dan memulai diskusi tentang topik tertentu. Topik diskusi idealnya dipilih oleh pembelajar.

Banyak dari pemikiran yang saya tawarkan di atas sama sekali tidak praktikal untuk diaplikasikan sekarang, baik dari sisi biaya, waktu, maupun tenaga kerja. Tetapi saya yakin kalau kita dapat memberikan pendidikan yang lebih baik ke para pelajar melalui ide-ide di atas. Untuk sekarang, kita bisa memulai dengan diskusi mengenai hal-hal di atas, dan memperbaiki sistem pendidikan yang ada sedikit demi sedikit.

Terakhir, berikut adalah salah satu kutipan yang menginspirasi saya tentang hal ini:

Tidak ada pengajar, sepintar apapun dia, dapat masuk ke pikiran pembelajar dan dapat menemukan cara yang tepat untuk merangkul pikiran si pelajar pada saat itu juga.. Karenanya pembelajaran mandiri - yaitu pembelajaran yang dikuasai (digerakkan) oleh si pembelajar - lebih efisien dan meresap daripada apapun yang mungkin diajarkan (secara tradisional).

Dr Peter Gray

Berikut adalah kutipan aslinya (jika saya salah menerjemahkan silahkan tinggalkan komentar):

No teacher, no matter how brilliant, can get into every child’s mind and come up with just the trick that will engage that mind at that exact time.. That’s why self-learning - learning in which the child is in charge - is.. more efficient and enduring than anything that can be taught.

Dr Peter Gray

Akhir kata, sampai di sini saja sharing kali ini. Semoga bermanfaat, dan jika tertarik untuk mendiskusikan topik di atas silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih sudah membaca :)

comments powered by Disqus

Daftar Isi