Sebagai generasi yang dibesarkan bersama dengan Internet, bertahun-tahun saya telah mengikuti banyak komunitas online. Dari pengamatan saya yang terbatas, baik komunitas online dalam dan luar negri memiliki satu kesamaan: perdebatan. Komunitas dibangun oleh banyak individu yang berbeda-beda. Tentunya hal ini akan menyebabkan adanya perbedaan pendapat dan pandangan, yang akhirnya akan melahirkan perdebatan. Dalam pandangan saya, perdebatan atau argumentasi sendiri bukan merupakan hal yang buruk. Hal yang buruk dalam perdebatan (khususnya perdebatan pada Internet) adalah cara berdebatnya.

Debat, argumen, dan jajak pendapat merupakan hal yang baik. Jika benar-benar ingin menghasilkan karya terbaik, kita harus mempertimbangkan semua sudut pandang dan pemikiran yang ada, untuk kemudian mengambil ide terbaik untuk dijalankan. Bagaimana kita mengeliminasi ide-ide yang kurang baik? Melalui diskusi dan tukar pikiran! Lalu, apa yang menyebabkan perdebatan di Internet menjadi tidak sehat dan sering bukan menghasilkan buah pikiran terbaik, melainkan justru pertengkaran tiada akhir?

Yang pertama adalah anonimitas yang identik dengan Internet. Anonimitas yang ditawarkan oleh Internet menyebabkan kita menjadi jauh lebih agresif. Dalam debat Internet, tak jarang ditemui susunan kata-kata indah yang tidak akan pernah diucapkan jika perdebatan terjadi dalam tatap muka. Hal ini ditunjang lagi oleh tidak adanya intonasi atau nada suara yang dapat didengar dalam tulisan, menyebabkan banyak salah paham dan sakit hati yang tidak diperlukan.

Selain itu, ada juga persepsi bahwa ketika orang lain memberikan argumen terhadap pendapat kita, orang tersebut “menyerang” kita. Pada kenyataannya, yang diserang oleh lawan debat kita idealnya adalah argumen kita, bukan kita! Dalam kasus ini, seringkali baik yang memberikan dan menerima argumen sama-sama bersalah. Terkadang kita kurang berhati-hati dalam menuliskan argumen (mungkin karena emosi, mungkin karena memang ingin menyerang). Terkadang juga kita terlalu melekat dengan ide kita, sehingga tidak dapat menerima kritik atau masukan dari yang lain.

Pada tulisan berikutnya, saya akan menerjemahkan artikel dari Paul Graham), yang berjudul “How to Disagree”. Tulisan ini memberikan tips untuk membangun dan mengidentifikasi keabsahan argumen kita. Singkatnya, PG mengkategorikan argumen tertulis dalam beberapa tingkat (semakin tinggi semakin bagus) seperti berikut:

Tingkat Argumen

Untuk sekarang, saya hanya akan membagikan tulisan tersebut untuk yang tertarik dan lancar berbahasa Inggris. Pada tulisan-tulisan beriikutnya, saya akan berbagi tentang cara-cara berargumen dan berdebat. Harapannya adalah agar kita tak lagi takut berdebat dan saling bertukar pikiran, untuk membawa perubahan dalam lingkungan kita.

comments powered by Disqus

Daftar Isi