Salah satu impian saya adalah memulai bisnis teknologi dan membuka perusahaan sejenis Google atau Microsoft, yang produk utamanya adalah teknologi. Perusahaan yang mengedepankan teknologi dan memandang engineer, programmer, dan orang-orang teknis lainnya sebagai aset terpenting perusahaan. Idealnya, saya sudah mulai menjalankan perusahaan ini sekarang, setidaknya sudah mulai membangun produk. Kenyataannya, sampai sekarang saya masih belum mulai melakukan apa-apa. Kenapa?

Bisnis. Saya tidak tahu apa-apa mengenai bisnis. Banyak teman-teman saya yang sudah membuka perusahaan, mendapatkan modal dari investor, dan bahkan bisnisnya sudah mendapatkan keuntungan. Sementara saya masih duduk, memikirkan produk apa yang harus dibuat. Apa hubungannya produk yang akan dibuat dengan menjalankan bisnis? Dari yang saya mengerti sejauh ini untuk memulai sebuah bisnis atau usaha kita harus dapat menghasilkan sebuah nilai (value) kepada orang lain. Nilai ini dapat berupa produk atau jasa, yang minimal dapat memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi calon pelanggan.

Kenyamanan yang ditawarkan ke calon pelanggan dapat berupa kenyamanan dalam melakukan sesuatu, misalnya bisnis supermarket seperti Hypermart atau Carefour yang memberikan kenyamanan berbelanja dibandingkan pasar tradisional, meskipun mungkin harga beberapa jenis barang lebih mahal dibandingkan dengan pasar tradisional. Banyak orang yang berbelanja di supermarket hanya karena kemudahannya: tidak harus berdesakan, tidak ada becek, tidak ada campuran aroma dari berbagai barang yang dijual, dan seterusnya.

Lebih menyenangkan mana?

Kita juga dapat menawarkan kemudahan kepada pelanggan melalui produk kita, misalnya layanan email berbasis web seperti GMail atau Yahoo Mail. Dulunya, untuk memiliki alamat email kita harus memiliki sebuah server, dan melakukan segala konfigurasi server tersebut agar dapat memberikan layanan email. Selain itu, antarmuka yang ditawarkan juga hanya berupa antarmuka berbasis teks yang pastinya sangat tidak nayaman bagi banyak pengguna. Produk seperti GMail atau Yahoo Mail memudahkan pengguna dengan memberikan antarmuka yang mudah digunakan serta membebaskan pengguna dari kewajiban melakukan administrasi server sehingga pengguna dapat menggunakan email tanpa harus menjadi ahli IT terlebih dahulu.

Sejauh ini, saya belum berhasil mendapatkan ide mengenai produk atau jasa yang dapat banyak memudahkan banyak orang, utamanya masyarakat Indonesia. Koreksi, bukan tidak ada ide, tapi tidak ada ide yang berpotensi menghasilkan uang. Mungkin saya yang terlalu takut atau pesimis dalam menjalankan bisnis. Entahlah.

Kembali ke topik, minggu lalu saya mendapatkan bacaan yang sangat menarik mengenai ide bisnis, dan kenapa berbisnis tidak selalu memerlukan modal dan investor, melainkan ide produk yang baik. Seperti biasa, tulisan aslinya ada dalam bahasa Inggris, dan peran saya hanya menerjemahkan agar yang belum fasih berbahasa Inggris dapat juga mendapatkan ilmunya. Untuk yang ingin membaca artikel aslinya, sumbernya ada di sini. Enjoy.

Bisnis dengan 5$: Pertanyaan

Diskusi mengenai bisnis ini dimulai dengan sebuah pertanyaan sederhana:

Saya mendapatkan 5$. Apa cara terbaik untuk menginvestasikan dan mengembangkan uang saya?

dan terdapat banyak jawaban akan hal ini. Tetapi saya hanya akan mengutip yang paling menarik.

Bisnis dengan 5$: Jawaban

Jawaban yang paling menarik dari pertanyaan tersebut:

Bigger is better. Right? Right??!

Saya ingat dulu pernah membaca bukunya Tina Sellig (direktur eksekutif dari Stanford Technology Ventures Program - Program Usaha Teknologi Stanford), “What I wish I knew when I was 20” (saya tidak kenal dengan Tina, walaupun sangat ingin berkenalan dengannya, dan saya sangat suka bukunya).

Tina memberikan tugas yang sama kepada mahasiswanya. Berikut adalah kata-kata Tina, dengan penekanan dari saya. Jika tidak memiliki waktu untuk membaca semuanya, loncati saja dan baca kata-kata yang dicetak tebal.

Apa yang akan anda lakukan untuk mendapatkan uang jika anda hanya diberi lima dolar dan dua jam? Pertanyaan tersebut adalah tugas yang saya berikan ke mahasiswa saya pada salah satu kelas dalam Stanford, sebagai bagian dari Stanford Technology Ventures Program…

Keempat belas tim yang mengerjakan tugas ini mendapatkan sebuah amplop berisi lima dolar “seed funding” dan diberi waktu sebanyak-banyaknya untuk melakukan perencanaan. Tetapi begitu mereka membuka amplopnya, tim tersebut hanya memiliki dua jam untuk menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Saya memberikan waktu kepada mereka dari Rabu sore sampai Minggu malam untuk mengerjakan tugasnya.

Kemudian, pada Minggu malam, setiap tim harus mengirimkan ke saya sebuah slide yang menjelaskan apa yang mereka lakukan, dan pada Senin siang setiap tim diberi waktu tiga menit untuk mempresentasikan proyek mereka kepada seluruh kelas. Mahasiswa didorong untuk berwirausaha dengan mengidentifikasi peluang, menghadapi batasan-batasan yang ada, memanfaatkan (sangat sedikit) sumber daya yang mereka miliki, dan dengan menjadi kreatif.

Vegas.

Apa yang akan anda lakukan jika diharapkan dengan tantangan ini? Ketika saya menanyakan pertanyaan ini ke banyak tim, biasanya ada yang berteriak “pergi ke Las Vegas”, atau “Beli tiket lotere”. Jawaban seperti ini mengundang banyak tawa.. Orang-orang tersebut mengambil resiko yang sangat besar untuk secuil kesempatan dalam mendapatkan hadiah yang besar.

Jus lemon.

Jawaban lain yang sering ditemui lagi yaitu membuka stan pencucian mobil atau jus lemon, menggunakan uang lima dolar tersebut untuk membeli perangkat yang dibutuhkan. Pilihan ini cocok untuk mereka yang ingin mendapatkan beberapa dolar tambahan uang belanja dalam dua jam.

Tetapi kebanyakan mahasiswa saya akhirnya menemukan cara untuk bergerak lebih jauh daripada jawaban-jawaban standar. Mereka benar-benar serius dalam mempertanyakan batasan-batasan tradisional – dan akhirnya membongkar banyak kemungkinan-kemungkinan baru – untuk menghasilkan nilai bisnis yang sebanyak-banyaknya.

Bagaimana mereka melakukan hal ini? Sedikit bocoran: tim yang menghasilkan uang paling banyak tidak menggunakan lima dolar tersebut sama sekali. Mereka sadar bahwa berfokus pada uang yang diberikan pada akhirnya akan menyempitkan pandangan terhadap masalah yang ada. Mereka tahu bahwa lima dolar bukan merupakan nilai yang besar dan mencoba melihat masalahnya dari sudut pandang yang lebih luas: apa yang dapat kita lakukan untuk menghasilkan uang jika kita mulai dari nol (tidak memiliki apa-apa)?

Mereka meningkatkan kemampuan observasi mereka, mengerahkan segenap bakat mereka, dan membuka pintu kreatifitas untuk mengidentifikasikan masalah di dalam masalah yang sedang mereka hadapi, atau memperhatikan bagaimana orang lain bergumul dengan masalah yang telah mereka lihat sebelumnya, tetapi tidak pernah terpikir untuk diselesaikan. Masalah-masalah seperti itu benar-benar mengganggu, tetapi tidak selalu menjadi masalah utama yang dipikirkan oleh orang pada umumnya. Dengan menemukan masalah-masalah seperti itu dan mencari penyelesaiannya, tim yang mendapatkan nilai terbaik menghasilkan lebih dari $600, dan rata-rata pengembalian investasi lima dolar pada tugas tersebut adalah 4.000 persen! Jika kita menghitung bagaimana banyak dari tim-tim tersebut tidak menggunakan dana yang diberikan sama sekali, maka nilai kembalian finansial mereka adalah tak terbatas.

Mengantri. Kegiatan paling menyebalkan sedunia.

Jadi apa yang mereka lakukan? Seluruh tim yang terlibat memiliki daya cipta yang luar biasa. Salah satu tim menemukan permasalahan yang umum ditemui pada banyak kota-kota pendidikan (misal: Bandung, Jogja - red) – antrian yang sangat, sangat, panjang di restoran-restoran populer di malam minggu. Tim ini memutuskan untuk membantu orang-orang yang tidak mau antri. Mereka berpasangan dan memesan tempat pada beberapa restoran. Ketika waktu pemesanan sudah dekat, mereka menjual reservasi mereka seharga maksimal dua puluh dolar kepada pelanggan yang tidak ingin mengantri.

Seiring berjalannya malam tersebut, tim ini menemukan beberapa hal yang menarik. Pertama, mereka menyadari bahwa mahasiswa wanita lebih mahir dalam menjual reservasi daripada mahasiswa pria, kemungkinan karena para pengantri lebih nyaman didekati oleh wanita muda. Mereka mengubah rencana sehingga para mahasiswa pria berkeliling kota memesan tempat dan para wanita menjual reservasi tersebut di antrian. Mereka juga mempelajari bahwa operasi yang dijalankan paling sukses dilakukan pada restoran-restoran yang menggunakan pager untuk mengingatkan pelanggan ketika meja pesanan mereka sudah siap digunakan. Saling bertukar pager membuat para pelanggan merasa mendapatkan sesuatu yang jelas dari uang mereka. Mereka merasa lebih nyaman menukarkan uang dan pager mereka dengan pager baru. Hal ini juga memberikan bonus tambahan – tim tersebut kemudian dapat menjual pager yang baru didapat ketika sudah mendekati akhir waktu mereka.

Memompa sepeda.

Tim yang lain menggunakan pendekatan yang lebih sederhana lagi. Mereka membuka sebuah stan di depan organisasi kemahasiswaan dan menawarkan jasa pengukuran tekanan ban sepeda gratis. Jika ban yang diukur memerlukan tambahan angin, mereka dapat menambahkannya dengan biaya satu dolar. Awalnya mereka mengira bahwa mereka memanfaatkan sesama mahasiswa, yang sebenarnya dapat dengan mudah pergi ke SPBU di dekat mereka untuk mengisi angin. Tetapi setelah beberapa pelanggan awal, para mahasiswa ini menyadari bahwa orang-orang yang bersepeda sangat bersyukur atas jasa mereka. Meskipun para penyepeda dapat mengisikan angin gratis di SPBU, dan hal ini dapat dilakukan dengan mudah, para penyepeda ini menyadari bahwa jasa yang ditawarkan para mahasiswa sangat memudahkan dan bernilai. Bahkan setengah jalan pada periode dua jam yang diberikan, tim ini berhenti meminta harga pas dan hanya meminta donasi. Pendapatan mereka menanjak. Mereka mendapatkan lebih banyak uang ketika pelanggannya mendapatkan layanan gratis daripada ketika pelanggannya dimintai harga pas.

Untuk tim ini, dan juga tim yang membuat reservasi restoran, bereksperimen sambil berbisnis memberikan hasil yang bagus. Proses iteratif, di mana perubahan-perubahan kecil dilakukan sesuai dengan umpan balik dari pelanggan, memungkinkan mereka mengubah strategi sambil jalan.

Presentasi.

Kedua proyek ini menghasilkan beberapa ratus dolar, dan teman-teman sekelas mereka terkagum-kagum. Namun tim yang menghasilkan keuntungan terbesar melihat sumber daya yang diberikan ke mereka dari sudut pandang berbeda, dan menghasilkan $650. Para mahasiswa ini melihat bahwa aset paling berharga yang mereka miliki bukanlah lima dolar maupun waktu dua jam yang diberikan. Yang mereka anggap aset paling berharga malahan adalah waktu presentasi tiga menit mereka pada hari Senin. Mereka memutuskan untuk menjual waktu tersebut ke sebuah perusahaan yang ingin merekrut para mahasiswa di kelas mereka. Tim ini lalu membuat “iklan” tiga menit untuk perusahaan tersebut dan menunjukkannya untuk para mahasiswa pada waktu yang harusnya digunakan untuk mempresentasikan apa yang mereka lakukan minggu lalu. Hal ini sangat cerdas. Mereka menyadari bahwa mereka memiliki aset yang sangat berharga – yang tidak disadari oleh mahasiswa lainnya – menunggu untuk digunakan.

  • Sebagian Tulisan dari “Psychology Today”

Singkatnya:

Anda melihat masalahnya terlalu sempit. 5 dolar tidak dapat digunakan untuk banyak hal. Gunakan uang tersebut untuk membeli kopi dan pikirkan bagaimana anda dapat menyelesaikan masalah-masalah yang ada dengan gratis, dan pasang harga pada hal tersebut.

(Atau lebih baik lagi, beli kopi untuk orang yang anda hormati atau kagumi.)

Kesimpulan (dari Penerjemah)

Setelah membaca tulisan di atas dan merenung selama beberapa hari, beberapa hal yang saya dapatkan dan ingin bagikan kepada pembaca mengenai bisnis (terutama bisnis teknologi) yaitu:

  1. Pandang masalah dari sudut yang berbeda. Berikan kemudahan dan nilai tambah kepada pelanggan dengan menyelesaikan masalah-masalah umum yang tidak terlalu mereka pikirkan, namun akan sangat memudahkan jika diselesaikan.
  2. Tidak semua masalah perlu diselesaikan dengan teknologi canggih. Terkadang teknologi hanyalah sebuah perangkat untuk menyelesaikan masalah. Tidak penting seberapa canggih atau seberapa baru teknologi yang digunakan, selama kita bisa enyelesaikan masalah.
  3. Pikirkan, dan maksimalkan, cara untuk menghasilkan uang dari awal: sebelum bisnis dimulai. Tanpa ada cara menghasilkan uang yang jelas, meskipun mendapatkan dana dari investor, bisnis anda akan sangat sulit bertahan hidup lama. Lihat juga: Google vs Facebook/Twitter.

Akhir kata, tulisan ini hanya hasil pemikiran dari penulis yang memiliki sangat sedikit pengalaman dalam berbisnis. Mohon jangan diterima bulat-bulat, silahkan berikan kritik dan saran di kotak komentar jika ada. Kritik, saran, dan diskusi dari pembaca akan sangat dihargai :)

Terima kasih telah membaca. Exit scene: bert.

comments powered by Disqus

Daftar Isi