Dengan berkembangnya (dan semakin murahnya) Internet, akses pengetahuan menjadi sangat mudah dilakukan, oleh siapapun, kapanpun, dan di manapun. Sayangnya, kemudahan akses ini sekaligus menjadi suatu hal yang berbahaya: informasi yang salah juga dengan gampang disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Penyebaran informasi salah ini, ditambah dengan kurangnya pengertian masyarakat akan ilmu pengetahuan menyebabkan banyak terjadi ketakutan, kebingungan, dan keragu-raguan masyarakat terhadap informasi yang tersebar.

Ilmuwan sendiri, sebagai insan yang bekerja penuh dalam mencari dan menemukan ilmu baru, sangat jarang memberikan penjelasan kepada masyarakat secara gamblang mengenai ilmu yang didalaminya. Di mata masyarakat, ilmuwan adalah sekelompok orang pintar elit yang bekerja siang malam untuk mendapatkan ilmu pengetahuan baru, ataupun membangun teknologi baru. Perlu dicatat juga bahwa hal ini tidak berarti ilmuwan memang adalah sekelompok orang elit yang tidak mau berbagi ilmu, melainkan hal ini hanyalah pandangan masyarakat umum terhadap ilmuwan. Ilmuwan adalah orang pintar. Kata-kata ilmuwan harus didengarkan, dan akan selalu benar. Hal ini sangat tidak baik dan beracun, karena selalin menyebabkan adanya jarak yang besar antara ilmuwan dan masyarakat, pemisahan seperti ini akan menyebabkan masyarakat semakin tidak mengerti mengenai ilmu pengetahuan, dan bagaimana sistem akademik bekerja. Masyarakat yang tidak mengerti hal tersebut akan menjadi masyarakat yang mudah dikontrol oleh otoritas maupun ilmuwan, karena “kata ilmuwan pasti benar”.

Selain itu, kita juga memiliki masalah akan ketidak mengertian masyarakat mengenai cara kerja metode saintifik, yang menjadi dasar utama dari dunia ilmu pengetahuan. Ketidak mengertian masyarakat akan cara kerja ilmu pengetahuan ini menjadikan banyak masyarakat yang sering melakukan kesalahan seperti mempercayai kata-kata profesor bidang Kimia mengenai komputer. Banyak orang yang saya jumpai yang mengharapkan seorang profesor, terlepas dari bidang ilmu apapun, harus mengerti segalanya. Kenapa? Karena dia profesor. Mentalitas ini juga yang akhirnya menyebabkan (atau adalah akibat dari?) pemikiran “ilmuwan pasti benar” yang dibicarakan sebelumnya.

Kita perlu melakukan sesuatu untuk mengubah hal ini. Masyarakat perlu menjadi lebih pintar agar bangsa dapat maju ke depan.

Apa yang Dapat Kita Lakukan?

Jika anda masih perduli terhadap bangsa ini (seharusnya anda perduli, karena kemajuan bangsa, dalam sisi apapun, akan menyebabkan kehidupan anda, istri, pacar, teman, orang tua, anak, saudara, guru, dan semua orang yang anda sayangi lebih menyenangkan), ada beberapa hal yang dapat dilakukan, misalnya:

  1. Menjadi penghubung antara ilmuwan dan masyarakat melalui media komunikasi ilmu pengetahuan.

    Cara utama untuk menghadapi bajir informasi yang salah tentunya adalah dengan memproduksi informasi yang benar, sebanyak-banyaknya. Informasi dapat disebarkan melalui berbagai media. Dengan membuka jembatan penghubung antara masyarakat dan ilmuwan, diharapkan masyarakat dapat melihat ilmuwan sebagai sumber pembelajaran, bukan komunitas elit orang pintar. Salah satu contoh dari media jenis ini ialah langitselatan.com. Langit selatan memberikan informasi kepada masyarakat mengenai astronomi, melalu banyak media, seperti majalah, website, seminar, dan pengembangan komunitas.

    Media dan komunitas adalah salah satu kunci utama dalam meningkatkan pengetahuan orang banyak. Melalui media dan komunitas, diharapkan informasi dapat tersebar dengan cepat, sehingga masyarakat dapat saling berbagi ilmu pengetahuan. Masyarakat yang berbagi adalah masyarakat yang belajar.

    Perlu diingat juga bahwa “media” yang dimaksud tidak harus berupa media resmi seperti langitselatan. Jika anda tidak ingin menjalankan media resmi, anda dapat ikut berperan dengan berpartisipasi dalam komunitas, ataupun dengan menulis blog (seperti penulis).

  2. Belajar dan Berbagi.

    Agar dapat membantu menyebarkan informasi yang baik, tentunya kita sendiri harus mengetahui informasi yang baik itu yang seperti apa. Bagaimana caranya? Dengan belajar. Banyak membaca. Membuka wawasan diri sendiri sangat penting sebelum mulai menyebarkan informasi.

    Berbagi sendiri tidak harus selalu dilakukan dengan menulis, seminar, atau menjadi pengajar. Berbagi informasi dan pengetahuan dapat dilakukan dengan hal-hal sederhana seperti retweet atau menyebarkan tulisan. Punya buku yang sudah tidak dibaca? Jual dengan harga murah, sumbangkan ke perpustakaan, atau berikan ke teman. Bukankah berbagi itu indah dan ibadah?

  3. Berpikir Kritis dan Berpendapat.

    Satu hal yang saya tidak mengerti dari budaya Indonesia adalah ketakutan berpendapat. Seringkali saya temui orang-orang di lingkungan saya yang menuliskan puluhan kalimat permintaan maaf dan pernyataan bahwa yang diutarkaan hanyalah pendapat sebelum mengatakan pendapatnya. Takut salah.

    Jujur, kita juga tidak dapat menyalahkan mereka yang takut berpendapat. Pernakah anda mengungkapkan pendapat, yang ternyata pendapat anda itu salah? Saya pernah. Dan respon dari orang sekitar (atau pengajar) sangat brutal. Kata-kata seperti “bodoh” atau “gila” atau “tolol” akan diucapkan dan ditempelkan ke anda selamanya. Jangan salah, saya tidak terlalu anti dengan kata-kata kasar (karena terkadang memang kata-kata tersebut diperlukan), tetapi menjadikan hal tersebut sebagai cap permanen untuk satu orang karena satu pendapat saja sangat tidak adil.

    Jika anda seorang pendidik, cobalah untuk selalu mendorong bimbingan anda untuk berpendapat, berpikir kritis, dan berbuat kesalahan. Ketiga hal tersebut sangat penting dalam belajar. Ajarkan ke bimbingan anda bahwa ketiga hal tersebut adalah hal yang pasti harus dilalui dalam belajar. Ajarkan mereka bagaimana cara belajar, bukan hanya apa yang harus dipelajari dalam bidang ilmu anda. Ajarkan cara memancing, bukan berikan ikan, kepada orang yang lapar (tentunya ada juga orang yang tidak mau diajari cara memancing dan hanya ingin terima bersih, tetapi itu adalah pembahasan lain).

    Jika anda bukan pendidik? Jangan dukung mentalitas “tidak boleh berpendapat” atau “penghakiman masal terhadap orang yang berpendapat”. Ketika seorang pengajar mencoba merendahkan kolega anda karena berpendapat, jangan ikut mengejek atau tertawa. Ketika anda berada di posisi yang berpendapat, cobalah untuk tersenyum dan berbesar hati. Jika hari ini gagal, coba lagi di lain hari. Satu hal yang pasti, anda akan menjadi lebih maju daripada guru anda jika modus operasi guru anda ialah “tidak boleh berpendapat”.

Akhir Kata

Jarak antara ilmuwan dan masyarakat sekarang memang masih agak jauh. Kita tidak dapat sepenuhnya menyalahkan ilmuwan, dan juga tidak dapat sepenuhnya menyalahkan masyarakat karena adanya jarak ini. Masyarakat tentunya tidak diharapkan untuk mengerti seluruh ilmu pengetahuan yang ada di dunia, tetapi setidaknya mengerti bagaimana cara kerja ilmu pengetahuan. Pengertian masyarakat akan metode penelitian (dan cara belajar) akan meningkatkan kemampuan berpikir kolektif kita sebagai sebuah bangsa (atau negara), yang pada akhirnya akan memajukan negara kita secara keseluruhan.

Mari kita jalankan peran kita masing-masing, baik yang ilmuwan maupun bukan, untuk saling memajukan bangsa. Kemajuan bangsa pada akhirnya akan memberikan keuntungan bagi kita semua juga, kan? Mentalitas ilmuwan vs masyarakat (atau mentalitas kami vs mereka pada umumnya) juga perlu dihilangkan. Ingat bahwa ilmuwan juga tidak mengetahui banyak hal di luar bidangnya, dan masyarakat sangat mungkin mengetahui banyak hal yang tidak diketahui ilmuwan. Singkatnya, mari sama-sama belajar, karena pada dasarnya kita semua setara, ilmuwan ataupun non-ilmuwan.

comments powered by Disqus

Daftar Isi